• pengumuman.jpg
  • pengumuman2.jpg
  • DSCF0031.jpg
  • DSCF0092.jpg
  • DSCF0512.jpg
  • DSCF3820.jpg
  • DSCF0492.jpg
  • 9.jpg
  • DSCF0033.jpg
  • DSCF0147.jpg
  • DSCF3628.jpg
  • DSCF0019.jpg
  • DSCF0164.jpg
  • 6.jpg
  • 3.jpg
  • DSCF0514.jpg
  • DSCF0683.jpg
  • DSCF0121.jpg
  • DSCF3631.jpg
  • DSCF0079.jpg
  • DSCF0129.jpg
  • 7.jpg
  • DSCF0554.jpg
  • DSCF0160.jpg
  • DSCF0555.jpg
  • DSCF0144.jpg
  • DSCF0132.jpg
  • DSCF1672.jpg
  • DSCF0112.jpg
  • 1.jpg
  • DSCF3722.jpg
  • DSCF0166.jpg
  • DSCF0391.jpg
  • DSCF0455.jpg
  • DSCF0558.jpg
  • DSCF1697.jpg
  • DSCF0171.jpg
  • DSCF0146.jpg
  • DSCF3707.jpg
  • DSCF3664.jpg
  • DSCF7775.jpg
  • DSCF0586.jpg
  • DSCF0644.jpg
  • DSCF0159.jpg
  • DSCF0075.jpg
  • DSCF0543.jpg
  • DSCF3625.jpg
  • DSCF0015.jpg
  • DSCF0368.jpg
  • DSCF7799.jpg
  • DSCF0153.jpg

Info Ngaben Masal 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengarep ngaben masal dan panitia melaksanakan acara madewa sraya...

Ngaben masal ke 2 Igum Wrdhi Budhi Ikatan Warga Bugbug Singaraja diawali dengan kegiatan madewa sraya di pura kahyangan tiga dan pura Gumang desa adat Bugbug.

Karena hidup sebagai manusia terikat dengan kewajiban atau hukum yang disebut dengan Rnam. Hukum tersebut wajib kita taati dan kita laksanakan.

Salah satu dari Tri Rnam yang wajib kita laksanakan adalah Pitra Rnam / pitra Yadnya. Pitra yadnya adalah persembahan suci kepada para leluhur kita. Yang dimaksud dengan leluhur adalah ; Ibu, Bapak, Kakek, Nenek, Buyut, dan terus keatasnya.yang merupakan garis lurus keatas, yang menurunkan kita. Kita ada karena Ibu, Bapak. Selanjutnya Ibu, Bapak ada karena Kakek, Nenek, dan begitu seterusnya. Hutang terhadap leluhur disebut Pitra Rnam, hutang ini wajib dibayar. Membayar hutang kepada para leluhur dengan melaksanakan Pitra Yadnya.

Pitra Yadnya merupakan suatu kewajiban bagi Pretisentananya atau keturunannya. Melaksanakan Pitra Rnam terhadap para leluhurnya, hal inilah menjadi dasar Hukum dari Pitra Yadnya

Upacara menghormati para leluhur dalam tradisi Hindu disebut dengan Srada, hal ini dijelaskan dalam Menawa Dharma Sastra, sebagai berikut.

UPACARA PITRA YADNYA YANG HARUS KAMU LAKSANAKAN, HENDAKNYA SETIAP HARINYA  MELAKUKAN SRADA , DENGAN MEMPERSEMBAHKAN NASI ATAU SUSU DAN UMBI-UMBIAN, DENGAN DEMIKIAN IA MENYENANGKAN PARA LELUHURNYA. (M.D S.1.82)

Demikian juga itihasa Ramayana memberikan landasan pada Pitra Yadnya, Inilah terjemahannya :

SANGAT BIJAKSANA LAH PRABU DASARATA, TAHU DAN PAHAM BELIAU PADA WEDHA, SELALU BAKTI KEPADA PARA DEWA, DAN TIDAK PERNAH LUPA MEMUJA PARA LELUHURNYA, BELIAU SELALU KASIH DAN SAYANG KEPADA KELUARGA SEMUA. (RAMAYANA. 1.3.)

Melaksanakan Pitra Yadnya adalah kewajiban bagi pratisentana/ pewaris, sesuai dengan tahapannya.

Upacara ngaben adalah penyelesaian jasmani orang yang meninggal dengan cara membakar jenasahnya. Pembakaran ini bertujuan untuk mempercepat proses pengembalian unsur-unsur jasmani kepada asalnya , yaitu Panca Maha Bhuta yang ada di Bhuwana Agung. Ngaben juga merupakan Upacara penyucian Roh / Atman orang yang meninggal, agar terlepas dari ikatan- ikatan noda dan dosanya. Diharapkan agar Roh/ Atman yang di upacarakan mendapatkan tempat yang layak sesuai dengan Karma Wasananya masing –masing yang sesuai dengan ajaran Pitra Rna. Khusus untuk Pitra Yadnya, hendaknya Yadnya tersebut dilandasi dengan rasa hormat, tulus, bakti, kepada orang yang meninggal. Keutamaan suatu Yadnya bukanlah diukur dari besar kecilnya Yadnya itu, melainkan dilandasi oleh ketulusan, keiklasan,kesucian hati dan Srada (percaya). Demikianlah dasar- dasar hukumnya mengenai Pitra Yadnya bagi Pratisentana dalam melaksanakan Pitra Rnam terhadap para leluhurnya.

Berikut ini mari kita renungkan sejenak sebagaimana yang diisyaratkan dalam Kekawin Niti Sastra, yang menegaskan sebagai berikut:

“ Kramaning dadi wwang ana ring bhuwana pautanganta ring praja, ri sirang manindra nguniweh sang atiti gameneka sambraman, athawa muwah swapita rahyang amara rena yogya kingkingen, panahurta ring protraka luputakening yamalaya”.( Niti Sastra, IX, 2)

Yang artinya :

Manusia di atas dunia ini mempunyai kewajiban terhadap sesamanya, orang yang suci, apalagi tamu, wajib diperlakukan dengan hormat, terlebih – lebih kewajiban kita terhadap orang tua, orang – orang suci, dan dewa – dewa, harus selalu di ingat, sebagai anak kita berkewajiban melepaskan nenek moyang kita dari tempat kediaman Betara Yama.

Bila anak berbuat baik terhadap orang tua, tentu ada pahalanya sebagaimana ada dinyatakan dalam Sarasamuccaya yang berbunyi :

“ Abhivadanacilasya nityam vrddhopasevinah, catvari tasya vardhante kirtirayuryaco balam” ( Sarasamuccaya, 250)

Yang artinya :

Akan pahala hormat bakti terhadap orang tua, adalah empat jenis hal yang bertambah, perinciannya: kirti, ayusa, bala, yasa. Kirti artinya pujian tentang kebaikan, Ayusa artinya hal hidup (kehidupan), Bala artinya kekuatan, dan Yasa artinya peninggalan yang baik (jasa). Kesemuanya itulah yang bertambah sempurna sebagai pahala hormat bakti terhadap orang tua,

Menyimak makna ayat suci di atas, maka betapa besarnya pahala seoarang anak yang bakti dan hormat terhadap orang tuanya, Ia akan mendapatkan empat jenis kemuliaan, seperti: pujian tentang kebaikan, kehidupan, kekuatan, dan nama baik yang di tinggalkan.

Selanjutnya ada pula dinyatakan bagaimana pahala seorang anak yang berbakti terhadap orang tuanya, berikut ini ada ditegaskan dalam Lontar Putra Sasana, sebagai berikut:

“Mapa palaning suputra, paripurna darmayukti, subageng rat sularja, ambek santa sadu budi, kinasihaning sasami, pada ngakwasanak tuhu, sami trsna sih umulat, apan wus pinastyeng widhi wang suputra, unggul ring sameng tumitah”,

Yang artinya :

Adapun pahala seorang Suputra, yang sempurna dan berbuat dharma termasyur susila dan bagus hatinya, damai dan berbudi mulia, setiap orang mengasihinya,

sama – sama mengaku keluarga, semua jatuh hati melihatnya, oleh karena Tuhan telah memastikan orang yang Suputra unggul di antara semua makhluk.

Demikianlah utamanya kalau seorang putra selalu bhakti, hormat, dan memberikan persembahan kepada orang tuanya. Pemahaman mengenai upacara Pitra Yajna, dalam ajaran Agama Hindu ada ditegaskan sebagai berikut:

“Adh yapanam brahma yajnah

Pitr yajnastu tarpanam

Homo daiwo balibhaurto

Nryajno “ tithi pujanam “, (Manawadharmasastra, III, 70).

Yang artinya :

Mengajar dan belajar adalah yajna bagi Brahmana, menghaturkan Tarpana dan Air Suci adalah yajna untuk leluhur, menghaturkan minyak dan susu adalah untuk para dewa, mempersembahkan Bali adalah yajna untuk bhuta, dan penerimaan tamu dengan ramah adalah yajna untuk manusia.

Dalam kitab Agastya Parwa ada ditegaskan pula:

“ Kunang ikang yajna lima pratekanya, lwirnya : dewa yajna, rsi yajna, pitra yajna, bhuta yajna, manusa yajna. Nahan tang panca yajna ring loka. Dewa yajna ngaranya taila pwa karma ri bhatara Siwagni, maka gelaran ring mandala ring bhatara, yeka dewa yajna ngaranya, rsi yajna ngaranja kapujan sang pandita mwang sang wruh ri kalinganing dadi wwang, ya rsi yajna ngaranya, pitra yajna ngaranya tileman bwat Hyang Siwasradha, yeka pitra yajna ngaranya” (Agastya Parwa, 35. B.)

Yang artinya:

Adapun yang disebut Panca Yajna, perinciannya sebagai berikut:

Dewa Yajna, Rsi Yajna, Pitra Yajna, Bhuta Yajna, Manusa Yajna. Demikianlah Panca Yajna di dalam masyarakat. Dewa Yajna adalah persembahan wijen ke hadapan Bhatara Siwa Gni, yang dipersembahkan di atas altar pemujaan,Itu disebut. Rsi Yajna adalah penghormatan kepada para pendeta, mengetahui hakikat hidup menjelma sebagai manusia. Pitra Yajna adalah persembahan kepada leluhur dan Dewa Siwa.

Kemudian dalam Manawa Dharma Sastra mengingatkan untuk tetap melaksanakan yajna atau persembahan yang merupakan suatu kewajiban sebagai umat Hindu yang tidak boleh dilupakan, dengan slokanya berbunyi:

“ rsi yajnam dewa yajnam Bhuta yajnam ca sarwada Nryajnam pitra yajnam ca Yatha sakti na hapayet”.          (Manawadharma sastra, IV. 21.)

Yang artinya:

Hendaknya jangan sampai lupa, jika mampu laksanakanlah Rsi Yajna, Dewa Yajna, Bhuta Yajna, Manusa Yajna, dan Pitra Yajna.

Dari beberapa kutipan sloka di atas, maka kita sebagai manusia menyadari betapa besarnya jasa orang tua yang telah memelihara dan membimbing kita sejak kecil hingga menjadi orang yang berguna dalam hidup ini, kita memiliki utang jasa pada orang tua, dan utang itu mesti dibayar baik pada saat orang tua masih hidup maupun setelah meninggal dengan melaksanakan upacara Pitra yajna, sebagai wujud bahwa swadharma telah dilaksanakan.

Dengan demikian bahwa Pitra Yajna adalah suatu penyaluran tenaga (sikap, tingkah laku, perbuatan) atas dasar suci (iklas) yang ditujukan kepada leluhur, untuk keselamatan bersama. Atau persembahan/ korban suci yang tulus iklas kepada leluhur yang telah meninggal dan pada orang tua yang masih hidup.

Sebagaimana pelaksanaan upacara untuk para Dewa dan para Rsi atau Orang Suci, maka upacara Pitra Yajna juga sama halnya yaitu mengandung makna tertentu yaitu sebagai rangkaian upacaranya.

Kalau kita perhatikan hakikat pelaksanaan Yajna dilaksanakan oleh umat Hindu bertujuan untuk menebus atau membayar utang atau menunaikan kewajiban agama yang memiliki nilai kesucian. Adanya Tri Rnam yang merupakan kewajiban bagi umat Hindu untuk menebusnya dengan berbagai persembahan yang iklas, seperti halnya kepada orang tua atau leluhur kita. Persembahan pada leluhur dimaksudkan agar dapat melepaskan segala penderitaan yang pernah dialaminya pada masa kehidupan di dunia ini.

Perwujudan rasa hormat umat Hindu kepada para leluhur diwujudkan dengan usaha membebaskan Sang Atma dari ikatan jasmani, ikatan duniawi, dan meningkatkan kesuciannya, agar bisa mendapatkan tempat yang baik di alam akhirat atau mencapai surga (Swah Loka). Salah satu usaha yang dapat ditempuh adalah dengan menyelenggarakan upacara – upacara yang bersifat penyucian yang diakhiri dengan memperalina, yang dikenal dengan upacara Pitra yajna.

Jadi, yang menjadi tujuan dari pelaksanaan upacara Pitra Yajna adalah:

  1. Memberikan persembahan yang tulus iklas pada para leluhur. b. Untuk menyelamatkan orang tua atau roh leluhur kita.
  2. Untuk mengembalikan jasad atau badan wadag ini ke alam asalnya yaitu Panca Maha Bhuta seperti Perthiwi, Apah, Teja, Bayu, dan Akasa.
  3. Menyucikan roh orang tua yang telah meninggal sehingga dari Preta berubah menjadi Pitara.

Demikian beberapa tujuan dari pelaksanaan upacara Pitra Yajna dan mengenai tingkatan upacaranya lebih lanjut akan diuraikan dalam bahasan berikut ini.

 

Tentang IGUM .....

IGUM WRDHI BUDHI arti dan makna nama yang disandang berkeinginan ....

Mau apa IGUM ?...

IGUM WRDHI BUDHI organisasi nirlaba yang mencoba bergerak dalam bidang....

Untuk apa IGUM berdiri ?,..

IGUM WRDHI BUDHI didirikan oleh Pengurus IWB SIngaraja dengan tujuan ....

Ngaben salah satu Tri Rnam....

Karena hidup sebagai manusia terikat dengan kewajiban atau hukum yang disebut dengan Rnam....

Drsta...

Drsta terkadang disanjung sebagai pelestarian budaya, tapi terkadang dicemooh, apa itu dresta ?....

Menafsirkan Ulang Kisah Lubdaka...

Hari Ciwaratri umat Hindu berdatangan ke Pura untuk bersama-sama melaksanakan persembahyangan, dharma tula dan sebagian akan melanjutkan “mekemit”/tidak tidur sampai pagi harinya

Layakkah PLTN Di Indonesia ?

Gempa dahsyat berkekuatan 8,9 skala richter yang mengguncang Jepang hari Jumat lalu (11 Maret 2011), disusul dengan tsunami telah membuat Negara Sakura tersebut berada dalam krisis yang dalam.

Mengurai Persoalan Kelistrikan di Bali

Jika melihat pertambahan pasokan listrik di Bali dalam 7 tahun terakhir, dapatkah kebutuhan listrik di Bali terpenuhi pada masa-masa mendatang ? 

Layakkah Singaraja jadi kota pendidikan?

Menyeimbangkan Bali Utara - Selatan Melalui Celukan Bawang

  • iwb2.png
  • banner2.jpg
  • banner.jpg
  • bannerigum2.png
Referensi ini dapat didownload, silahkan anda melakukan Registrasi sebagai member di web ini