• pengumuman.jpg
  • pengumuman2.jpg
  • DSCF0031.jpg
  • DSCF0092.jpg
  • DSCF0512.jpg
  • DSCF3820.jpg
  • DSCF0492.jpg
  • 9.jpg
  • DSCF0033.jpg
  • DSCF0147.jpg
  • DSCF3628.jpg
  • DSCF0019.jpg
  • DSCF0164.jpg
  • 6.jpg
  • 3.jpg
  • DSCF0514.jpg
  • DSCF0683.jpg
  • DSCF0121.jpg
  • DSCF3631.jpg
  • DSCF0079.jpg
  • DSCF0129.jpg
  • 7.jpg
  • DSCF0554.jpg
  • DSCF0160.jpg
  • DSCF0555.jpg
  • DSCF0144.jpg
  • DSCF0132.jpg
  • DSCF1672.jpg
  • DSCF0112.jpg
  • 1.jpg
  • DSCF3722.jpg
  • DSCF0166.jpg
  • DSCF0391.jpg
  • DSCF0455.jpg
  • DSCF0558.jpg
  • DSCF1697.jpg
  • DSCF0171.jpg
  • DSCF0146.jpg
  • DSCF3707.jpg
  • DSCF3664.jpg
  • DSCF7775.jpg
  • DSCF0586.jpg
  • DSCF0644.jpg
  • DSCF0159.jpg
  • DSCF0075.jpg
  • DSCF0543.jpg
  • DSCF3625.jpg
  • DSCF0015.jpg
  • DSCF0368.jpg
  • DSCF7799.jpg
  • DSCF0153.jpg

Info Ngaben Masal 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengarep ngaben masal dan panitia melaksanakan acara madewa sraya...

Ngaben masal ke 2 Igum Wrdhi Budhi Ikatan Warga Bugbug Singaraja diawali dengan kegiatan madewa sraya di pura kahyangan tiga dan pura Gumang desa adat Bugbug.

Sebuah pertanyaan sederhana patut disodorkan kepada pihak-pihak yang berwenang : Dapatkah kebutuhan listrik di Bali terpenuhi pada masa-masa mendatang ? Jika melihat pertambahan pasokan listrik di Bali dalam 7 tahun terakhir, maka sungguh sangat pesimis untuk jawaban pertanyaan diatas. Terjadi kondisi pertumbuhan yang tidak seimbang antara pasokan (supply) dengan permintaan (demand). Pertumbuhan permintaan sekitar 8 % per tahun, sementara pertumbuhan pasokan praktis nol sejak tahun 2003. Beban puncak pada tahun 2003 masih sekitar 330 MW, dengan kapasitas mampu yang dimiliki PLN saat itu masih 474 MW, berarti masih ada sisa (cadangan) sebanyak 144 MW. Dan sekarang beban puncak sudah mencapai 530 MW, dengan kapasitas mampu PLN 554 MW, sehingga cadangan hanya 20 MW. Jadi dalam 7 tahun telah terjadi peningkatan beban puncak sebesar 200 MW, padahal tambahan pasokan listrik untuk Bali dalam kurun waktu tersebut hanya 80 MW dari PLTG Pemaron. Jika ketimpangan ini dibiarkan terus kita sudah bisa menjawab pertanyaan diatas.

Pembangkit Listrik Uzur

Antrean daftar tunggu permintaan listrik dikhabarkan sudah sangat panjang. Namun, baik PLN bersama-sama pemerintah masih sangat sulit menambah pembangkit listrik yang baru di Bali. Komposisi sekarang pembangkit listrik di Bali masih tetap seperti dulu, belum beranjak dari pembangkit listrik diesel dan gas serta mengandalkan pasokan lewat kabel bawah laut. Dari pembangkit listrik diesel, Bali memperoleh 120 MW (PLTD Pesanggaran). Dari pembangkit listrik gas, Bali mendapat pasokan 230 MW (PLTG Pesanggaran, PLTG Gilimanuk dan PLTG Pemaron). Sedangkan pasokan dari Jawa melalui kabel bawah laut sebanyak 200 MW. Melihat jenis pembangkit listrik yang dimiliki tersebut sangat tergantung pada ketersediaan minyak HSD, tentu jangan berharap terlalu banyak, program kelistrikan Bali akan selaras dengan program Bali Clean and Green.

Selain pasokan listrik untuk Bali pas pasan dengan sisa hanya 20 MW, persoalan yang dihadapi oleh sistem kelistrikan Bali adalah persoalan keandalan pasokan. Seluruh pembangkit listrik di Bali sudah uzur (berusia 30 tahun keatas) baik itu PLTD Pesanggaran, PLTG Pesanggaran maupun PLTG Gilimanuk. Jangan tanyakan PLTG Pemaron. Pembangkit ini adalah pindahan dari Tanjung Priok dan saat dipindahkan ke Bali tahun 2003, PLTG tersebut sudah beroperasi di Tanjung Priok selama 27 tahun. Padahal masa bhakti suatu pembangkit hanya direncanakan 25 tahun saja. Yang namanya uzur atau tua sudah barang tentu akan sering mengalami kerusakan atau pemeliharaan berkala. Contohnya, ketika PLTG Gilimanuk harus menjalani pemeliharaan rutin (maintenance) selama 2 bulan dari oktober sampai desember 2009 terjadi byar-pet listrik di Bali.

Sistem Pasokan Tidak Andal

Mengandalkan tambahan pasokan dari Jawa jika terjadi kerusakan/pemeliharaan pembangkit listrik di Bali ? Jangan bermimpi !. Kabel – kabel bawah laut yang melintasi selat Bali hanya tersisa 2 kabel dari 11 kabel yang ada. Jadi 9 kabel rusak dihantam keganasan palung selat Bali tersebut. Dengan 2 kabel, hanya 200 MW yang bisa diseberangkan dari Jawa ke Bali. Pun dengan 2 kabel tersebut saja Bali belum bisa tidur nyenyak, karena sewaktu-waktu akibat gangguan atau bencana alam terhadap instalasi kabel tersebut akan serta merta membuat Bali black out (pemadaman total). Peristiwa ini pernah terjadi persis setahun yang lalu, yaitu 15 September 2009, ketika petir menyambar salah satu tower kabel bawah laut ini di Gilimanuk. Dengan kejadian tersebut, praktis 200 MW listrik lenyap seketika dan seluruh pembangkit listrik di Bali tidak mampu memasok semua kebutuhan listrik di Bali dan akhirnya membuat black out Bali. Ancaman gangguan pasokan listrik melalui kabel bawah laut juga pernah terjadi di Selat Madura, dan penyebabnya sangat sepele, yaitu kabel bawah laut terputus oleh jangkar kapal. Pada 31 Mei 2009 di Bali juga terjadi pemadaman total, dan ini disebabkan oleh gangguan petir yang menimpa pembangkit listrik di Situbondo, Banyuwangi.

Sulit Membangun Pembangkit Listrik

Banyak kalangan yang mendengungkan dan sekaligus mendesak agar Bali mandiri dalam penyediaan listrik, sehingga tidak tergantung pada pasokan dari Jawa. Tapi apakah mungkin ? Pengalaman berbicara, bahwa tidak mudah untuk membangun pembangkit listrik di Bali. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Untuk PLTG Pemaron terjadi penolakan masyarakat pariwisata disana karena lokasi pembangkit di Pemaron sangat dekat dengan kawasan wisata Lovina. Walaupun akhirnya PLTG Pemaron tetap dapat diwujudkan, demo besar-besaran menentang proyek ini sempat dilakukan oleh masyarakat setempat. Contoh lain, proyek Pembangkit Listrik Panas Bumi di Bedugul sudah selama 15 tahun tidak kunjung terrealisasi, padahal menurut studi, potensi listrik yang dapat dibangkitkan disana mencapai 200 MW. Persoalan di Bedugul terbentur pada keyakinan orang Bali yang melarang wilayah hulu (kepala) diganggu kelestariannya. Kemudian contoh lain, PLTU Celukan Bawang. Sudah 3 tahun proyek pembangkit listrik dengan kapasitas 3 x 135 MW ini mengambang dan tidak jelas. Dengar-dengar persoalannya pada masalah ganti rugi tanah yang tidak bisa dituntaskan.

Sejak Gubernur Bali mencanangkan program Bali Clean and Green, ada wacana supaya Bali merujuk kepada pembangkit-pembangkit listrik renewable (dapat diperbaharui) seperti photovoltaic (energi matahari), wind turbine (energi angin), dan tenaga air (PLTA). Namun berdasarkan berbagai referensi, untuk pemanfaatan photovoltaic maupun windturbine masih terlalu mahal dan belum mampu berskala besar untuk di Bali. Sementara potensi PLTA di Bali hanya di Sungai Ayung yang potensinya hanya 35 MW. Jadi untuk solusi jangka pendek, jenis-jenis pembangkit “clean” ini belum mampu berpartisipasi.

Bersiap-siap Mandeg

Bali adalah pulau kecil, tapi jika Bali sering mengalami black out atau byar pet listriknya, maka pemerintah pusat juga akan kerepotan. Bali merupakan aset penting Indonesia, karena menjadi sumber devisa utama. Tetapi atas persoalan kelistrikan di Bali tersebut, pemerintah terkesan kurang serius. Barangkali ini yang menyebabkan waktu 7 tahun berlalu begitu saja tanpa ada pasokan tambahan listrik. Sementara permintaan tumbuh tinggi, ini mencerminkan ekonomi Bali tumbuh. Namun bersiap-siaplah untuk melihat kemandegan pertumbuhan ekonomi Bali jika melihat kondisi kelistrikan di Bali ini. (***).

 

Ir. Gde Wisnaya Wisna, alumni ITB Bandung,

tinggal di Singaraja.

Catatan Admin : Tulisan ini adalah tulisan lampau 

Tentang IGUM .....

IGUM WRDHI BUDHI arti dan makna nama yang disandang berkeinginan ....

Mau apa IGUM ?...

IGUM WRDHI BUDHI organisasi nirlaba yang mencoba bergerak dalam bidang....

Untuk apa IGUM berdiri ?,..

IGUM WRDHI BUDHI didirikan oleh Pengurus IWB SIngaraja dengan tujuan ....

Ngaben salah satu Tri Rnam....

Karena hidup sebagai manusia terikat dengan kewajiban atau hukum yang disebut dengan Rnam....

Drsta...

Drsta terkadang disanjung sebagai pelestarian budaya, tapi terkadang dicemooh, apa itu dresta ?....

Menafsirkan Ulang Kisah Lubdaka...

Hari Ciwaratri umat Hindu berdatangan ke Pura untuk bersama-sama melaksanakan persembahyangan, dharma tula dan sebagian akan melanjutkan “mekemit”/tidak tidur sampai pagi harinya

Layakkah PLTN Di Indonesia ?

Gempa dahsyat berkekuatan 8,9 skala richter yang mengguncang Jepang hari Jumat lalu (11 Maret 2011), disusul dengan tsunami telah membuat Negara Sakura tersebut berada dalam krisis yang dalam.

Mengurai Persoalan Kelistrikan di Bali

Jika melihat pertambahan pasokan listrik di Bali dalam 7 tahun terakhir, dapatkah kebutuhan listrik di Bali terpenuhi pada masa-masa mendatang ? 

Layakkah Singaraja jadi kota pendidikan?

Menyeimbangkan Bali Utara - Selatan Melalui Celukan Bawang

  • iwb2.png
  • banner2.jpg
  • banner.jpg
  • bannerigum2.png
Referensi ini dapat didownload, silahkan anda melakukan Registrasi sebagai member di web ini