• pengumuman.jpg
  • pengumuman2.jpg
  • DSCF0031.jpg
  • DSCF0092.jpg
  • DSCF0512.jpg
  • DSCF3820.jpg
  • DSCF0492.jpg
  • 9.jpg
  • DSCF0033.jpg
  • DSCF0147.jpg
  • DSCF3628.jpg
  • DSCF0019.jpg
  • DSCF0164.jpg
  • 6.jpg
  • 3.jpg
  • DSCF0514.jpg
  • DSCF0683.jpg
  • DSCF0121.jpg
  • DSCF3631.jpg
  • DSCF0079.jpg
  • DSCF0129.jpg
  • 7.jpg
  • DSCF0554.jpg
  • DSCF0160.jpg
  • DSCF0555.jpg
  • DSCF0144.jpg
  • DSCF0132.jpg
  • DSCF1672.jpg
  • DSCF0112.jpg
  • 1.jpg
  • DSCF3722.jpg
  • DSCF0166.jpg
  • DSCF0391.jpg
  • DSCF0455.jpg
  • DSCF0558.jpg
  • DSCF1697.jpg
  • DSCF0171.jpg
  • DSCF0146.jpg
  • DSCF3707.jpg
  • DSCF3664.jpg
  • DSCF7775.jpg
  • DSCF0586.jpg
  • DSCF0644.jpg
  • DSCF0159.jpg
  • DSCF0075.jpg
  • DSCF0543.jpg
  • DSCF3625.jpg
  • DSCF0015.jpg
  • DSCF0368.jpg
  • DSCF7799.jpg
  • DSCF0153.jpg

Info Ngaben Masal 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengarep ngaben masal dan panitia melaksanakan acara madewa sraya...

Ngaben masal ke 2 Igum Wrdhi Budhi Ikatan Warga Bugbug Singaraja diawali dengan kegiatan madewa sraya di pura kahyangan tiga dan pura Gumang desa adat Bugbug.

Dibalik usulan memindahkan Ibu Kota Provinsi Bali dari Denpasar ke Singaraja ternyata tersirat ada persoalan yang digugat oleh Pesemetonan Buleleng Bersatu (PBB), yaitu ketimpangan pembangunan Bali Selatan dan Bali Utara. Kesenjangan  tersebut semakin melebar khususnya dibidang perekonomian. Banyak warga Buleleng yang pergi ke Denpasar maupun Badung untuk mencari pekerjaan maupun penghidupan. Kalkulasi mereka (PBB) tentu logis, dengan kepindahan Ibukota Bali ke Singaraja, maka akan tercipta banyak lapangan pekerjaan, sehingga otomatis akan menyerap banyak tenaga kerja. Modal/Investasi juga akan mudah mengalir ke Buleleng, fasilitas akan bertambah baik, sarana transportasi akan diperbaiki dll,sehingga dengan demikian rantai perputaran ekonomi akan dapat bergerak lebih cepat.

Tetapi , haruskah memang untuk menyeimbangkan pembangunan Bali Selatan dan Bali Utara dilakukan dengan memboyong Ibukota Provinsi Ke Singaraja ? Sebetulnya tidak harus. Banyak jalan menuju Roma, demikian pula banyak alternatif yang bisa dilakukan agar terjadi pemerataan pembangunan Bali Selatan dan Bali Utara. Semestinya, pindah atau tidak pindahnya ibukota Bali ke Singaraja tidaklah menghalangi upaya mengatasi kesenjangan pembangunan antara Bali Utara dan Bali Selatan. Namun demikian, darimana memulainya ? Salah satu yang perlu dilakukan adalah dengan menciptakan atau memindahkan pusat-pusat aktivitas yang strategis, agar  tidak hanya terkonsentrasi di Denpasar maupun Badung. Sebaran maupun distribusi pusat-pusat aktivitas tersebut niscaya mempunyai efek domino secara ekonomi dalam memeratakan kesejahteraan masyarakat Bali, dengan demikian secara perlahan dapat menyeimbangkan pembangunan Bali Utara-Selatan.

Jarak Tempuh Dua Kali Lipat

Salah satu yang patut dipertimbangkan adalah memindahkan seluruh kegiatan bongkar muat yang sekarang ini dominan dilakukan di Pelabuhan Benoa ke Pelabuhan Celukan Bawang. Dari pertimbangan lokasi geografis, Pelabuhan Celukan Bawang merupakan salah satu pelabuhan yang lokasinya paling baik di Bali dibandingkan tempat lainnya. Keistimewaanya antara lain keberadaannya dilindungi palung laut cukup dalam sehingga tidak mudah tersedimentasi. Sejak beroperasi pada 1979 belum pernah dikeruk karena alasan pendangkalan.

Sejatinya agak aneh jika PT Pelindo III, pemilik dan pengelola pelabuhan-pelabuhan di Bali,  lebih memerankan Pelabuhan Benoa sebagai pelabuhan bongkar muat dan peti kemas, karena Pelabuhan Benoa terletak di pantai selatan atau di hamparan Lautan Hindia. Jika kita cermati dengan jernih, akibat posisi Pelabuhan Benoa tersebut, kapal yang berasal dari Surabaya harus terlebih dahulu masuk Selat Bali sebelum sampai di Benoa. Sementara kapal yang berasal dari Makassar harus juga mengambil haluan berputar dulu yaitu memasuki Selat Lombok sebelum tiba di Benoa. Dengan demikian praktis semua kapal dengan tujuan Bali akan menempuh jarak dua kali lipat lebih jauh bila dibandingkan kalau kapal-kapal tersebut berlabuh di Celukan Bawang. Kelemahan lain dari Pelabuhan Benoa , ialah pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan lepas pantai. Berarti resiko dan inefisiensi makin besar untuk kegiatan bongkar muat. Sementara Pelabuhan Celukan Bawang berada di laut dalam, kapal-kapal besar dapat langsung merapat ke dermaga, berarti resiko bongkar muat jauh lebih kecil.

Isu Miring Ganggu Celukan Bawang

Sekarang ini Pelabuhan Benoa merupakan pelabuhan utama di Bali, beroperasi dan dikelola dengan berbagai fungsi yakni sebagai tempat bongkar muat barang umum (konvensional), BBM, ikan, petikemas dan sebagai tempat naik turunnya penumpang baik domestik maupun asing serta tempat tambatnya kapal-kapal pesiar seperti yacht dan kapal pesiar lainnya. Berdasarkan data yang bisa diperoleh melalui web, jumlah kapal yang berlabuh di Pelabuhan Benoa tahun 2006 saja tercatat sebesar 5.560 kapal.

Sementara itu kegiatan utama di pelabuhan Celukan Bawang masih terbatas pada bongkar muat barang hanya beberapa komoditi seperti semen, pupuk, dan kayu. Jumlah kapal yang bersandar di pelabuhan ini masih jauh dibandingkan dengan Benoa, bahkan justru terus menurun dari tahun ke tahun. Pada 2004 jumlah kapal 545, turun menjadi 530 (2005), kemudian 465 (2006), turun lagi menjadi 369 (2007) dan pada 2008 tinggal 346 buah kapal. Prosentase penurunan cukup besar, yaitu 12,37%. Penurunan volume bongkar barang bahkan mencapai 20,70%. Kenyataan ini mencerminkan betapa nasib pelabuhan Celakan Bawang seperti kehilangan masa depan. Padahal perjuangan untuk menjadikan Pelabuhan Celukan Bawang sebagai pelabuhan utama di Bali sudah sejak tahun 1999. Masih belum lupa dalam ingatan kita, beberapa anggota DPRD Bali periode yang lalu (1999-2004) pernah berkunjung ke Pelabuhan Celukan Bawang, menjanjikan untuk mengkaji Pelabuhan Celukan Bawang menggantikan peran Pelabuhan Benoa. Tapi sampai sekarang tidak pernah terdengar bagaimana hasil kajian tersebut. Dulu masyarakat Buleleng menganggap , kurangnya keberpihakan kepada Celukan Bawang dikarenakan Gubernurnya tidak dari Buleleng. Tetapi sekarang tentu saja premis/hipotesa seperti itu harus dibuang jauh-jauh, karena Gubernur Bali sekarang berasal dari Buleleng. Syukurlah Gubernur Bali Made Mangku Pastika rupanya mulai menoleh dan akan memperhatikan Pelabuhan Celukan Bawang. Melalui kesempatan kunjungan kerjanya ke Pelabuhan Celukan Bawang, Mangku Pastika sempat mempertanyakan mengapa jumlah kapal yang bersandar dan volume bongkar muat barang terus menurun dari tahun ke tahun. Gubernur juga mempertanyakan sinyalemen, apakah penurunan itu disebabkan beberapa isu miring yaitu, ongkos bongkar di Celukan Bawang paling mahal didunia, merajalelanya premanisme, banyaknya kejadian kehilangan barang dan waktu bongkar yang masih lama. Persoalan ini tentu harus diatasi oleh pengelola disana. Jangan dibiarkan hal-hal seperti ini menjadi krikil yang menggangu upaya menjadikan Pelabuhan Celukan Bawang sebagai pelabuhan utama di Bali.

Efek Berantai yang Positip

Seandainya peran Celukan Bawang ditingkatkan, niscaya efek berantai peningkatan denyut ekonomi Bali Utara dapat dirasakan. Diyakini akan banyak efek positip yang ditimbulkan jika pengembangan Pelabuhan Celukan Bawang dilakukan, tidak semata-mata untuk Kabupaten Buleleng, tetapi juga untuk Bali. Antara lain, akan terjadi pergerakan keseimbangan pemerataan pengembangan kawasan di Bali, meliputi pemerataan lapangan kerja dan pemerataan pendapatan.

Mengapa demikian ? Karena kawasan pendukung di sekitar Celukan Bawang masih sangat potensial untuk dikembangkan. Wilayah yang kosong masih terbuka lebar disana, sehingga pengembangan industripun bisa segera menyusul begitu frekwensi aktivitas Pelabuhan Celukan Bawang meningkat.  Berbagai usaha terkait aktivitas pelabuhan juga bisa tumbuh, misalkan pembangunan terminal peti kemas. Di terminal peti kemas ini kontainer-kontainer  dibongkar, sehingga isi kontainer dapat diangkut dengan truk-truk kecil. Jadi tidak perlu dikhawatirkan, bahwa jika Pelabuhan Celukan Bawang dijadikan pelabuhan bongkar muat, maka harus dibangun jalan-jalan lebar. Jadi cukup memanfaatkan jalan-jalan yang sudah ada. Pun dilihat dari jarak tempuh ke Gilimanuk, jarak dari Pelabuhan Celukan Bawang hanya 70 km sementara jarak Benoa-Gilimanuk sekitar 150 km. Dampak positip lainnya, akan tercipta lapangan kerja di terminal peti kemas, truk-truk mendapatkan order, bisnis atau usaha ikutan lainnyapun akan bermunculan (***).

Gde Wisnaya Wisna, Warga Kota Singaraja.

Tentang IGUM .....

IGUM WRDHI BUDHI arti dan makna nama yang disandang berkeinginan ....

Mau apa IGUM ?...

IGUM WRDHI BUDHI organisasi nirlaba yang mencoba bergerak dalam bidang....

Untuk apa IGUM berdiri ?,..

IGUM WRDHI BUDHI didirikan oleh Pengurus IWB SIngaraja dengan tujuan ....

Ngaben salah satu Tri Rnam....

Karena hidup sebagai manusia terikat dengan kewajiban atau hukum yang disebut dengan Rnam....

Drsta...

Drsta terkadang disanjung sebagai pelestarian budaya, tapi terkadang dicemooh, apa itu dresta ?....

Menafsirkan Ulang Kisah Lubdaka...

Hari Ciwaratri umat Hindu berdatangan ke Pura untuk bersama-sama melaksanakan persembahyangan, dharma tula dan sebagian akan melanjutkan “mekemit”/tidak tidur sampai pagi harinya

Layakkah PLTN Di Indonesia ?

Gempa dahsyat berkekuatan 8,9 skala richter yang mengguncang Jepang hari Jumat lalu (11 Maret 2011), disusul dengan tsunami telah membuat Negara Sakura tersebut berada dalam krisis yang dalam.

Mengurai Persoalan Kelistrikan di Bali

Jika melihat pertambahan pasokan listrik di Bali dalam 7 tahun terakhir, dapatkah kebutuhan listrik di Bali terpenuhi pada masa-masa mendatang ? 

Layakkah Singaraja jadi kota pendidikan?

Menyeimbangkan Bali Utara - Selatan Melalui Celukan Bawang

  • iwb2.png
  • banner2.jpg
  • banner.jpg
  • bannerigum2.png
Referensi ini dapat didownload, silahkan anda melakukan Registrasi sebagai member di web ini